Dalam Artikel ini, akan disarikan beberapa isi dari majalah MEDIA TK SENTRA dan artikel artikel menarik lainnya. Untuk mendapatkan informasi lebih detail, disarankan untuk berlangganan majalah sentra dengan berpindah ke TAB Berlangganan untuk melihat cara berlangganan. []Tim Media TK Sentra.

————————————————–

Bp Yudhistira ANM Massardi, Pemimpin umum majalah MEDIA TK SENTRA

Sebagai pembicara dalam konferensi kedua PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

[]Tim Media TK Sentra.

—————————————–

Pengantar tentang majalah Metoda Sentra

Untuk anak dapat membaca, menulis dan berhitung, perlu tahap-tahap awal keaksaraan. Yang dapat dimulai dari usia bayi, dengan cara orang tua membacakan buku, puisi, menyanyikan lagu-lagu atau memberi nama dari anggota tubuhnya serta benda-benda yang ada disekitarnya. Bicara jelas dan menggunakan susunan kalimat yang benar sangat mendukung tahapan membaca dan menulis anak selanjutnya.

Anak belajar melalui main. Macam-macam main; main dengan diri sendiri, main dengan mainan, bermain symbol dan apabila sudah masuk SD sampai menjelang akil balig dia bermain tanda serta main dengan aturan.

Saat usia dini mereka belajar melalui main dan berkembang belajar melalui “kerja”, oleh karena itu mengapa sentra persiapan dibuat untuk mendukung proses belajar ini.

Guru menggunakan tema dalam pengajarannya. Tema dipilih dan dirancang dengan teliti, serangkaian kegiatan direncanakan sesuai dengan tema. Dan melalui kegiatan-kegiatan tersebut seluruh aspek perkembangan dapat terintegrasi di dalamnya. Yang dapat mengfasilitasi anak untuk menggeneralisasikan pengetahuan dan ketrampilannya dari satu pengalaman ke pengalaman yang lainnya.

Dalam rangka membantu guru merancang tema dan panduan orang tua dalam mendukung proses pembelajaran di sekolah maka majalah Media TK Sentra dan buku panduan sentra bisa menjadi bahan dalam proses pengajaran dengan metoda sentra.

[]Tim Media TK Sentra.

CUPLIKAN ARTIKEL “MEDIA TK SENTRA ” Edisi Perdana[]Tim Media TK Sentra.

(1) Kita Salah Didik sejak TK

KENAPA bangsa kita bisa menjadi begini amburadul? Wismiarti, seorang ibu yang dokter gigi, punya satu jawaban, yang didapatnya dari koleganya di Australia: ”Karena orang-orang Indonesia salah didik sejak dari Taman Kanak-kanak!” Kondisi tersebut diperparah oleh sikap para orangtua yang semberono di dalam mendidik anak-anak mereka di rumah.

Mengingkari Sunatullah

Anak-anak balita (golden age) di kota-kota besar di Indonesia, dibiarkan mengalami ketelantaran cinta dan makna. Para ibu ”modern” — karena alasan kepraktisan dan mengutamakan kerja di luar rumah — lebih memilih tidak memberikan ASI eksklusif selama enam bulan pada kehidupan awal sang bayi.  Padahal, tindakan itu tak hanya berarti tidak memberikan pelukan, kenyamanan, kebahagiaan, ketenangan, membantu penyambungan sel-sel otak anak, membangun kepercayaan anak terhadap ibu; melainkan juga mengingkari ketentuan Allah (sunatullah).

Tak cuma itu. Mereka pun lebih percaya untuk menyerahkan pendidikan anak-anaknya kepada para pengasuh bayi, yang entah seperti apa kualitas moral, ilmu, cinta dan bahasanya. Padahal, perkembangan otak dan pertumbuhan akhlak dan jiwa anak-anak balita, sangat bergantung kepada asupan informasi dan modelling orang-orang dewasa di sekitarnya. Justeru pada usia balitalah, anak-anak sangat membutuhkan peranan aktif dari, terutama, ibunya.

Pada saat itulah, masa depan anak ”ditentukan.” Jika momentum yang luarbiasa penting itu diserahkan kepada babby sitter, kita ”tahu” seperti apa isi otak dan masa depan mereka.  Anak-anak akan hidup tanpa cinta, sel-sel otaknya tidak tersambung maksimal, proses belajarnya tidak sesuai dengan tahapan, kepercayaan dirinya rendah, mereka akan sulit memahami makna segala sesuatu, dan dunia serta kehidupan akan dijalaninya secara serampangan, tanpa ada kesadaran akan tanggungjawab dan misi suci.

Metode Sentra

Maka, setelah mendapatkan jawaban yang fundamental dan menyentak itu, Wismiarti langsung memutuskan berhenti praktek sebagai dokter gigi. Pada 1996, ia mendirikan Sekolah Al-Falah, dimulai dari TK, di Ciracas, Jakarta Timur.

Itu diawali dengan studi banding ke beberapa sekolah TK di Australia, Eropa, dan Amerika Serikat. Akhirnya, ia memutuskan untuk mengadopsi metode BCCT (Beyond Centers and Circle Time/Lebih Jauh tentang Sentra dan Saat Lingkaran) yang kemudian dikenal sebagai “Metode Sentra.” Metode itu, yang “play-based learning”  dikembangkan oleh Pamela Phelps Phd di Creative School, Talahasse Florida, Amerika Serikat, sejak 1970. Adalah Pamela Phelps yang hingga kini menjadi konsultan Sekolah Al-Falah.

Dengan Metode Sentra, sejak usia dini, anak-anak diajak menjalankan nilai-nilai mulia sebagaimana yang diajarkan oleh semua agama, seperti hormat, jujur, sayang teman, rajin, tanggungjawab, disiplin, dan lain-lain. Nilai-nilai positif itu dialirkan melalui program sehari-hari, seperti saat makan, main, atau pun menjelang tidur.

Kemampuan klasifikasi dibangun sangat kuat. Klasifikasi pada benda kongkret (alat permainan edukatif) berdasarkan warna, bentuk, dan ukuran, diajarkan pada diri anak (seyogianya sejak bayi). Di setiap Sentra, kemampuan itu terus ditingkatkan, baik saat main maupun saat membereskan mainan tersebut.

Jika klasifikasi pada hal-hal yang kongkret sudah terbangun, maka kelak di kala dewasa, mereka akan mampu menglasifikasi hal-hal yang abstrak. Anak akan mampu membedakan mana yang salah dan mana yang benar. Kelemahan dalam klasifikasi, kelemahan dalam berpikir kongkret dan juga berpikir abstrak, itulah yang, antara lain, menyebabkan manusia Indonesia – sebagamana kita lihat di kalangan eksekutif, legislatif, yudikatif — tidak memahami apa tugas dan tanggungjawabnya.

Dalam hal membangun disiplin anak, Sekolah Al-Falah menerapkan “disciplin with love.” Disiplin dijalankan melalui simulasi langsung, sehingga anak-anak tahu dan mengerti tentang mengapa dan untuk apa suatu aturan dibuat. Misalnya, pada saat main balok, anak diberi tahu bahwa balok-balok kayu aneka bentuk geometris itu fungsinya untuk bermain pembangunan. Jika balok digunakan untuk hal lain, maka bisa membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Untuk pelajaran membaca, menulis dan berhitung – yang diselenggarakan dalam Sentra Persiapan — cara belajarnya sangat berbeda dengan yang umum berlangsung di Indonesia, yang konvensional. Dalam Sentra, anak-anak tidak diajari mengeja huruf-huruf A, B, C, atau 1 + 1 = 2.

Melalui Sentra, kemampuan dan keterampilan anak dibangun melalui main, tanpa tekanan dan paksaan dari guru dan lingkungan. Dengan Sentra, pengetahuan dan keterampilan (knowledge) anak diorganisir secara rapi. Guru menciptakan kondisi dan memberikan kesempatan kepada anak agar mereka  ”menemukan sendiri” pengetahuan keaksaraan dan kemampuan berhitungnya.

Dilarang Melakukan “Tiga M”

Metode Sentra membuat anak belajar dengan gembira, dan sekolah jadi menyenangkan. Suasana nyaman dan menyenangkan harus dicapai. Maka, guru dilarang melakukan ”Tiga M”: menyuruh, melarang, marah/menghukum. Karena, jika anak dalam kondisi tertekan, kecewa, sedih, atau marah (emosi negatif), maka ia tidak akan dapat belajar. Berdasarkan penelitian, otak pusat berpikir manusia tidak akan berfungsi jika emosi dalam keadaan negatif. Dengan memosisikan anak sebagai subyek dan bukan obyek, seluruh potensi kecerdasan bisa dibangun, dan anak akan tumbuh menjadi pribadi penemu, percaya diri, dan bahagia.

Metode Sentra membangun anak pada delapan domain, yaitu afeksi, estetika, kognisi, psikomotor, bahasa, sosial, pembangunan, dan main pura-pura (berdasarkan teori Jean Piaget). Juga mengembangkan tujuh kecerdasan dasar (multiple Intelligences menurut teori Howard Gardner). Sebagai sekolah Islam, Wismiarti memperkuatnya dengan pembangunan 18 Sikap, nilai-nilai yang diambil dari 99 Asmaul Husna, yang sangat penting dihayati dan dialirkan oleh  para guru kepada anak-anak di setiap Sentra. Dengan semua itu, anak-anak diharapkan menjadi insan kamil, yang understanding dan adaptable.

Ada tujuh sentra yang dikembangkan di Sekolah Al-Falah, yaitu Sentra Balok, Bahan Alam, Seni, Persiapan, Main Peran Besar, Main Peran Kecil, dan Imtaq.

Metode Sentra menggunakan kurikulum individual disesuaikan kebutuhan dan tahap perkembangan anak (Jean Piaget). Sehingga, hal yang pertama kali harus dibangun adalah kemampuan guru untuk bisa membaca tahap perkembangan siswa dan memberikan dukungan pembelajaran yang sesuai. Untuk itu, jumlah siswa di tiap kelas dibatasi maksimum 12 anak.

Sistem pendidikan dengan paradigma baru itulah yang juga dikembangkan di Batutis Al-Ilmi, sekolah gratis untuk kaum dhuafa. Belakangan, predikat itu diubah — agar lebih positif dan membuat anak merasa bangga — menjadi ”sekolah beasiswa insan kamil.” Sekolah itu diawali dari garasi, dikelola oleh Siska Y. Massardi di kediamannya di Bekasi, sejak September 2005.

Hasilnya?

Hanya dengan paradigma baru seperti itulah, kita akan bisa menghasilkan generasi baru (pemimpin) bangsa yang lebih baik dan berakhlak mulia! Insya Allah.[]

(2) RUBRIK CERMIN

Pengalaman: Virna Triasmara

SENTRA: PENDIDIKAN YANG MEMANUSIAKAN

Berbagai  permasalahan yang terjadi di dunia pendidikan, menjadi perhatian tersendiri bagiku. Banyak siswa yang secara intelektual dikatakan cerdas, namun bermasalah dalam hal kepribadian. Sehingga, ia sulit untuk bersosialisasi dengan lingkungannya. Ia menemukan banyak masalah. Termasuk masalah tanggungjawab dan kemandirian. Banyak anak usia SD yang belum mampu menyiapkan kebutuhannya sendiri, seperti makan, mandi, berpakaian.

Sebagai orangtua, tentu saja aku tak menginginkan anak-anakku termasuk dalam golongan anak-anak yang bermasalah. Aku ingin mereka bisa tumbuh secara utuh. Baik  dari segi jasmani maupun rohani, sisi intelektual, emosional dan spiritualnya.

Berbagai sekolah telah aku datangi, dari yang negeri sampai yang menamakan diri ”Sekolah Terpadu” atau ”Sekolah Internasional.” Tapi, aku melihat ada kebijakan sekolah yang tidak sesuai dengan kebutuhan anak pada umumnya. Terutama,  saat mereka  sedang dalam masa transisi dari TK ke SD. Begitu banyak sekolah mengedepankan sisi kognitif, tapi mengabaikan hal yang lainnya, terutama kepribadian.

Pencarianku berakhir ketika aku mengenal pendidikan dengan pendekatan Sentra, setahun yang lalu. Saat itu, suamiku yang bekerja di sebuah majalah, mendapat kesempatan untuk mendampingi temannya yang bertugas meliput pendidikan di TK Batutis Al-Ilmi, di Pondok Pekayon Indah, Bekasi. Sesampainya di rumah, ia menceritakan hasil liputannya, yang akan dimuat di majalahnya. Aku merasa, itulah jawaban yang kami idam-idamkan selama ini.

Aku dan suamiku pun menginginkan agar anak-anak kami bisa bersekolah di sana. Tapi sayangnya, saat itu, Batutis yang merupakan singkatan dari ”Baca Tulis Gratis,”    hanya dikhususkan untuk anak-anak kaum dhuafa.

Singkat cerita, pada awal tahun ajaran 2009/2010 Batutis Al-Ilmi membuka kesempatan untuk anak yang berbayar. Kedua anak kami pun bisa bersekolah di sana. Savira Afifah di SD kelas satu, dan Safina Azizah di tingkat Play Group. Sejak saat itu, aku pun mulai menjalin komunikasi secara intens dengan kepala sekolah TK Batutis, Siska Yudhistira. Sebagai wali murid, aku mendapat kesempatan mengikuti program pelatihan untuk orangtua, yang memperkenalkan bagaimana proses pendidikan dengan Metode Sentra.

Di sanalah aku melihat  pendidikan yang dapat memenuhi kebutuhan kedua anakku. Pendidikan yang memanusiakan anak didik, yang tidak lagi memperlakukan anak seperti komputer yang di-install program begitu banyak, sehingga penuh, dan kemudian mengalami kerusakan (hang). Terlalu banyak hal yang dimasukkan ke otak mereka, padahal beberapa hal di antaranya, belum sesuai dengan tahapan dan kebutuhan mereka.

Kemajuan pada Savira

Suatu siang, setelah Savira pulang sekolah, aku bertanya kepadanya, tentang apa yang ia pelajari di sekolah barunya itu. Alih-alih mendapat penjelasan, anak sulungku itu justru menjawab, “Aku nggak belajar, Bunda. Aku bermain di sekolah.”

Kekhawatiran pun menyelimuti pikiranku. Aku mengira Vira belum mampu menangkap konsep pelajaran yang diberikan oleh gurunya. Namun, saat aku mengadukan hal tersebut ke kepala sekolahnya, Ibu Siska justru tersenyum dan mengatakan, “Itu yang mau kita cari. Anak merasa senang dengan apa yang mereka pelajari. Seakan-akan mereka sedang bermain. Dan nanti, suatu saat, Ibu akan melihat dan  mengerti, apa yang anak Ibu dapatkan dari sekolah. Melalui sikap dan juga melalui apa yang mereka katakan, dalam kehidupannya sehari-hari.”

Benar saja. Kemudian hari aku menyaksikan bahwa pendidikan dengan pendekatan Sentra yang diterapkan di Batutis – yang didesain dengan suasana yang menyenangkan — membuat Vira mampu mengulang pelajaran tanpa beban. Hal itu terlihat ketika suatu hari ia mencabut tanaman yang ada di depan rumah, dan menunjukkannya kepadaku, seraya menjelaskan, “Bunda, tanaman yang ini berakar tunggang, dan yang yang satu lagi berakar serabut.”

Keteraturan dalam hidupnya juga sudah mulai terbangun. Ia sudah mampu membuat program bagi dirinya, baik di sekolah maupun di rumah. Ia akan dengan senang melakukan apa saja yang harus ia lakukan setelah pulang sekolah, tanpa paksaan. Keteraturan yang  memang terbangun melalui kegiatan lapor, ketika anak sudah menyelesaikan satu pekerjaannya di setiap Sentra.

Begitu juga dengan keberaniannya. Vira sudah mampu mengemukakan pendapatnya kepada orang dewasa dengan cara yang lebih baik, mengenai apa yang ia pelajari di sekolah.   Seperti pengetahuan tentang bahaya merokok, yang ia sampaikan, ketika suatu kali ia bertemu dengan orang dewasa yang perokok.

Membangun keberanian untuk dapat mengemukakan pendapat, tentu bukanlah hal yang mudah. Aku melihat, kemampuan itu terbangun karena di sekolah dengan pendekatan Sentra, anak mendapat kesempatan untuk membuat peraturan sendiri bagi dirinya. Seperti saat akan belajar ke lapangan. Guru akan menanyakan kepada mereka, “Apa peraturan yang harus kita buat, kalau kita bermain di lapangan?” Dan masing-masing anak akan mengungkapkan sendiri peraturan-peraturan yang memang seharusnya ada. Dan aku benar-benar menyaksikan, bahwa apa yang anakku pelajari di sekolah tergali dan teraplikasikan dalam kehidupannya sehari-hari.

Vira juga memiliki kemajuan dalam hal kemandirian. Ia bisa menyiapkan segala sesuatu kebutuhannya sendiri. Ia dapat membedakan apakah ia membutuhkan bantuan orang dewasa atau tidak.

Bukan itu saja. Vira pun telah mampu menerjemahkan manfaat, dari kondisi di sekitarnya. Ketika suatu hari ia mengungkapkan perasaannya padaku: “Bunda, aku sebenarnya nggak suka sekolah di sana, karena teman-teman suka mengganggu.” Tapi, kemudian ada satu kalimat yang aku kagumi dari kalimat setelah itu: “Tapi, ada untungnya juga Bunda, karena aku jadi bisa lebih bersabar.”

Aku cukup terkejut mendengar pernyataan itu. Karena, ternyata anakku bisa mengambil manfaat dari ketidaknyamanan yang ia rasakan. Anakku mampu menilai sesuatu dari segi positif. Karena, memang aku akui, anak-anak di Batutis, yang berasal dari kelompok masyarakat tertentu, memiliki ciri tersendiri. Banyak dari mereka yang cenderung lebih aktif dan ekspresif, baik dari segi kata-kata maupun perilaku, yang terkadang dapat membuat orang-orang di sekitarnya merasa tidak nyaman.

Vira juga menjadi lebih tahu arti berkonsentrasi dan mengabaikan hal yang tidak berhubungan dengannya. Suatu hari, Safina adiknya, beraksi mencari perhatianku –yang sedang membantu Vira mengurus perlengkapannya– dengan mencolok-colok mulutnya dengan jari-jari. Aku pun resah dengan tingkah Safina. Tapi kemudian, Vira berkata, “Abaikan saja, Bunda. Setelah selesai urusan Bunda denganku, baru Bunda bisa menghampiri adik,” katanya.

Perubahan Safina

Ada yang berbeda dari anak keduaku, Safina Azizah. Ia adalah salah satu anak dengan kebutuhan khusus, dengan kasus Delay Global Development. Keterlambatan dalam perkembangan. Tidak seperti anak balita pada umumnya, Safina belum mampu berbicara dan berjalan.

Setiap kali aku membawanya ke luar rumah, ia akan menangis kencang. Ia tampak seperti orang yang ketakutan. Belakangan, baru aku ketahui, bahwa ia mengalami trauma untuk berhadapan dengan orang lain— akibat berbagai terapi yang pernah ia jalani dulu. Beberapa pusat terapi memang telah aku datangi, demi mengobati keterlambatan perkembangan yang terjadi padanya. Tapi, ternyata semuanya gagal mendatangkan perubahan.

Belakangan, dari rekam medik salah seorang dokter, baru aku tahu, bahwa Safina harus terlebih dahulu mendapatkan rasa nyaman. Jika rasa nyaman itu telah ia dapatkan, barulah ia akan mengalami kemajuan untuk mengejar ketertinggalannya. Dan kenyamanan itu ia temukan di rumah.

Aku bersyukur karena kemudian sekolahnya, Batutis Al-Ilmi, juga menjadi tempat yang dapat ia terima. Awalnya, aku tidak berharap banyak dari sekolahnya. Aku hanya ingin ia bisa mendapatkan tempat untuk bersosialisasi. Aku tak menyangka, Safina justru mengalami perubahan cukup signifikan. Ia mulai bisa memahami perintah, seperti ketika guru atau temannya mengatakan kepadanya, “Yang masuk mulut hanya makanan.” Ia memang sering menggigit dan memasukkan benda lain ke dalam mulutnya. Safina juga sudah mulai mau meniru. Ocehannya sudah mulai terdengar.

Dan yang lebih mengagumkan adalah,  teman-temannya bisa menerima Safina dengan seutuhnya. Mereka begitu perhatian kepadanya. Karena itulah, kini Safina sudah mulai menemukan rasa nyaman di antara keramaian. Dan aku yakin, ke depannya, Safina pasti akan mengalami kemajuan-kemajuan yang lainnya.

Aku pun berharap, semoga setiap anak Indonesia dapat merasakan pendidikan yang memanusiakan melalui Metode Sentra ini. Sehingga kelak, anak-anak Indonesia menjadi anak-anak yang berkualitas. Mendapatkan pendidikan yang semestinya, dengan kebutuhan dan keistimewaan masing-masing, sehingga mereka memiliki kepribadian dan jiwa yang kuat.[] Diceritakan kembali oleh RAHMA HAYATI.

[]Tim Media TK Sentra

——————————–

Social Darwinism dalam Pendidikan Kita (new article)

Pendidikan kita telah tercengkeram oleh kepentingan untuk memenuhi kebutuhan sistem neoliberalisme, yang akarnya adalah Social Darwinism. Demikian salah satu peringatan yang dikemukakan Guru Besar Emeritus Universitas Negeri Jakarta,Prof. Dr, HAR Tilaar,MSc.Ed., saat menerima sejumlah penggiat home-schooling bersama tim Media TK Sentra di ruang kerjanya, Kamis 27 Mei 2010. Prof. Tilaar mengungkapkan kegalauannya yang mendalam atas kecenderungan pendidikan yang semakin mendewa-dewakan keunggulan kognitif-intelektual, demi meraih bintang-bintang olimpiade dan sejenisnya. “Pendidikan yang tidak berjiwa,karena talak tiga dari kebudayaan.”
Peringatan Prof. Tilaar di atas sungguh serius, kalau tak boleh dikatakan sangat mengerikan.Bila kita tengok pengertiannya, Social Darwinism sebetulnya istilah pejoratif untuk mengritik suatu ideologi atau ide yang mengeksploitasi konsep ilmu biologi dan ilmu sosial dalam menciptakan perubahan politik artifisial dengan menghilangkan bakat-bakat khas individu, ras dan subkultur karena memiliki kualitas yang “tak dikehendaki”. Dalam ideologi atau ide semacam itu, pendidikan dipaksa mengacu pada satu tolok ukur kepentingan tunggal (dalam hal ini ekonomi).
Dalam bentuk pertanyaan retoris, Prof. Tilaar mengilustrasikan kecenderungan tersebut pada pendidikan kita: apakah semua anak sekolah kita (dari Sabang sampai Merauke) memang seharusnya mengacu pada kualitas untuk menuju kursi mahasiswa di UI, ITB, UGM dan seterusnya? Sepertinya, semua sekolah kita dari SD sampai SMA memang didesain untuk mengacu pada tujuan itu.
Silakan, boleh setuju, boleh tidak dengan pengamatan tersebut. Namun, ada baiknya kita bertanya: pernahkah keunggulan khas anak-anak di bidang, misalnya, musik, tari, lukis, atau sastra diakui dalam sekolah mereka sebagai keunggulan yang sederajat dengan keunggulan di bidang sains dan matematika? Nun, di bawah alam sadar banyak orangtua telah tertancap sangat kuat persepsi kategoris kasta keamampuan anak dengan Sains dan Matematika pada urutan teratas. “Sastra? Ah, bagaimana hidupmu nanti? (Atau), boleh saja kau geluti sastra, tapi selesaikan dulu SEKOLAHMU!” Sounds familiar?
Untuk menutup tulisan ini, penulis mengajak khalayak pembaca mencermati curahan hati seorang remaja bernama Iga Massardi, yang sangat menyentuh, tentang Sekolah. http://igamassardi.wordpress.com/2010/01/26/sekolah/    []Tim Media TK Sentra.


Sekilas tentang Batutis Al Ilmi, sekolah yang telah menerapkan metoda Sentra sejak 2005


BATUTIS, Sekolah Gratis untuk Dhuafa

Tak ada gedung, garasi pun jadi. Gurunya dilempar kaus kaki dan diludahi

Suatu pagi di sebuah sudut di Perumahan Pondok Pekayon Indah, Bekasi Selatan, Jawa Barat, nampak sekelompok anak kecil asyik bermain. Seorang ibu iseng-iseng bertanya,  ”Kalian tidak sekolah?” Mereka menjawab, ”Tidak.” Ketika ditanya lagi, ”Mengapa?” Mereka bilang, ”Tak punya uang.”Mendengar jawaban itu, hati si ibu yang bernama Siska, terusik. ”Zaman sekarang kok masih ada anak tak bisa sekolah,” katanya sebagaimana dikutip oleh majalah Suara Hidayatullah.Anak-anak itu berasal dari kampung-kampung di sekitar kompleks perumahan itu. Orangtua mereka kebanyakan bekerja sebagai tukang ojek, tukang sol sepatu, pembantu rumah tangga, pumulung, dan sebagainya. Mereka memang masyarakat miskin.Siska merasa terpanggil untuk melakukan sesuatu. Setelah berembug dengan suaminya, terbesit gagasan di benaknya untuk membuat sekolah darurat. ”Sekurang-kurangnya, mereka tidak lagi bermain secara liar,” kata Siska, istri Yudhistira ANM Massardi, sastrawan dan wartawan senior.Aksi pun segera dilakukan. Garasi rumah mereka di Perumahan Pondok Pekayon Indah, Blok BB 29 No 6, Jl. Pakis VB, Pekayon Jaya, Bekasi Selatan, akhirnya ”disulap” menjadi kelas.  Di situlah Siska membuka sekolah gratis ”Batutis Al-Ilmi.”  Batutis adalah singkatan  dari ”baca tulis gratis.”

Tanpa promosi, murid yang mendaftar langsung jumlahnya 70 anak.  Dari jumlah itu, yang diterima hanya 40 anak. “Saya diprotes ibu-ibu yang anaknya tidak diterima. Tapi, bagaimana lagi, tempatnya tidak muat,” ujar Siska.

Dibantu oleh dua orang guru, Siska  turut mengajar langsung. Seluruh beaya diambil dari kocek pribadinya.

Waktu terus bergulir. Sayang, niat baik kadang tak selalu berjalan baik. Masalah demi masalah sering dihadapi Siska, terutama berkaitan dengan perilaku para muridnya yang agresif dan kasar. Pernah, Siska dilempar kaos kaki tepat di wajahnya, bahkan ia pun pernah juga diludahi. Bagi anak-anak itu, perilaku mengamuk, menggigit, memukul, mencakar, dan berkata kasar, bukan hal yang asing. ”Belakangan, saya ketahui, mereka memang biasa diperlakukan begitu oleh orangtuanya,” tambah Siska.

Awalnya, lulusan Sekolah Menengah Kesejahteraan Keluarga (SMKK) itu bingung menghadapi berbagai perilaku murid-muridnya itu. Ia pernah putus-asa dan ingin menutup sekolahnya. Namun, setelah berpikir panjang, ”Akan pergi ke mana lagi anak-anak yang tak beruntung itu mencari ilmu?” Akhirnya, godaan itu ia tepiskan.

Di tengah kebingungan menemukan cara terbaik menghadapi perilaku anak-anak itu, Siska ditawari seorang teman mengikuti pelatihan yang memperkenalkannya kepada metode pengajaran BCCT (Beyond Center and Circle Time) – yang kini disebut sebagai ”Metode Sentra” — di Sekolah Al-Falah, Jakarta Timur. Tanpa pikir panjang, Siska menerima tawaran itu.

Di dalam pelatihan itu, diajarkan cara mendidik dengan Metode Sentra. Dengan metode itu, anak belajar melalui main dan kerja. Pendekatan yang dilakukan selalu menekankan agar anak merasa nyaman. Karena itu, dalam program tersebut guru dilarang melakukan ”3 M”:  menyuruh, melarang, apalagi marah.

Begitu selesai mengikuti pelatihan, metode itu kemudian diterapkannya di Sekolah Batutis Al-Ilmi. Hasilnya, kemampuan berbahasa murid terbangun dengan baik, perilakunya lebih terkontrol, dan mereka cenderung belajar dengan gembira, karena diberi kebebasan memilih dan bebas dari tekanan.

Siska kini boleh berlega hati.  Sebidang tanah telah disewanya, dan di atasnya telah didirikan bangunan semi permanen untuk SD. Ia juga tak perlu merogoh koceknya dalam-dalam, karena ada kawan-kawannya yang suka rela membantu dana.

Keputusannya untuk membuka SD itu, didorong oleh desakan para orangtua murid. Beberapa anak yang sudah merasa nyaman bersekolah di Batutis, merasa tidak betah belajar di sekolah lain.

Sekolah Batutis Al-Ilmi, yang pernah diliput oleh Televisi Indosiar, Daai-TV dan O Channel,  kini semakin dikenal. Tetapi, Siska tidak hanya berkutat menguus sekolahnya sendiri. Sejak dua tahun lalu, ia memberikan seminar-seminar di berbagai daerah, antara lain Tasikmalaya, Cimahi, Pekalongan, untuk berbagi ilmu tentang Metode Sentra kepada para guru dan orangtua murid di sana.

Tak hanya itu. Ia juga menyelenggarakan pelatihan-pelatihan ”pendahuluan” bagi para guru TK yang datang dari berbagai daerah. Sekolah Batutis Al-Ilmi pun menjadi tempat bagi para guru dari sekolah lain yang ingin melakukan observasi dan ingin tahu tentang bagaimana Metode Sentra diterapkan. Untuk kepentingan itu pulalah, Sekolah Batutis Al-Ilmi turut menerbitkan majalah ini. []Tim Media TK Sentra.

sumber : http://www.elshinta.com/v2003a/readnews.htm?id=81412

Sekolah untuk Anak Tak Mampu Berstandar Internasional
Elshinta – Newsroom, Sekolah gratis buat kaum dhuafa biasanya pengap dan kumuh. Tapi tidak TK Batutis Al Ilmi. Sekolah di kawasan Pondok Pekayon Indah, Bekasi ini nampak asri dan nyaman. Padahal sekolah ini gratis bagi siswa dari keluarga tak mampu.

Saat berdiri tahun 2005 silam, Batutis, singkatan dari Baca Tulis Gratis, berlokasi di garasi rumah Siska Y Massardi, sang pendiri. Mulanya Batutis cuma sekedar menampung anak-anak miskin yang tidak sekolah karena keterbatasan biaya. Namun melihat antusiasme warga, Batutis semakin berkembang.

Berbekal semangat berbagi dan keinginan tulus, Siska dan sang suami, Yudhistira Massardi, nekad mengembangkan sekolah. Padahal ia tidak memiliki ijasah pendidikan guru. Cuma bermodalkan buku bacaan, pelatihan singkat dari Yayasan Al Falah, dan keinginan kuat menjadi guru, Batutis berkembang dengan pesat.

Kini Batutis memiliki 65 siswa, tingkat TK dan SD hingga kelas dua, serta 13 tenaga pengajar. Walaupun gratis, namun Batutis menerapkan sistem belajar sentra, seperti sekolah swasta bertarif mahal, yang menekankan pembelajaran individu. Anak-anak belajar diruang terbuka dan para guru tidak diperbolehkan marah, melarang, ataupun menghukum.

Berkat bantuan para donatur, Batutis kini memiliki ruangan dua lantai, diatas tanah yang sewanya digratiskan sang pemilik.

Diakui sang pendiri, tak mudah mengajar anak-anak dari keluarga tak mampu yang kerap dilatari kekerasan dalam keluarga. Namun, melihat para siswa semakin berkembang dan terdidik, membuat pengorbanan itu terasa tidak sia-sia dan sangat berharga. (Indosiar/Astrid Farma Putri dan Tarwin Nasution/Ijs) (der)

[]Tim Media TK Sentra.

————–

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.